Sabtu, 20 Agustus 2011

Mengapa Ledakan Bintang Terbesar Sering Terjadi di Galaksi Terkecil Mulai Terungkap

0 komentar
Studi ini menjelaskan mengapa bintang besar di galaksi kecil mengalami ledakan yang bahkan lebih kuat daripada bintang yang berbobot serupa di galaksi yang lebih besar seperti Bima Sakti kita.

Para astronom yang menggunakan Galaxy Evolution Explorer NASA mungkin telah lebih dekat untuk mengetahui mengapa beberapa ledakan bintang paling masif yang pernah diamati terjadi di galaksi yang terkecil.
“Ini bagaikan menemukan pegulat sumo dalam ‘Mobil Cerdas’ kecil,” kata Don Neill, anggota tim Evolution Galaxy Explorer NASA di Institut Teknologi California di Pasadena, dan penulis utama studi baru yang dipublikasikan dalam Jurnal Astrophysical.

Galaxy Evolution Explorer NASA membantu memecahkan misteri - mengapa galaksi terkecil menghasilkan ledakan bintang yang terbesar, atau supernova? (Kredit: NASA/JPL-Caltech)
“Ledakan bintang-bintang besar yang paling kuat terjadi di galaksi yang bermassa sangat rendah. Data terbaru mengungkapkan bahwa bintang-bintang yang mulai membesar dalam galaksi kecil tetap membesar sampai mereka meledak, sedangkan di galaksi yang lebih besar mereka justru mengkerut seiring bertambahnya usia, dan kurang besar ketika mereka meledak,” kata Neill.
Selama beberapa tahun terakhir, para astronom yang menggunakan data dari Palomar Transient Factory, survei angkasa luar berbasis darat di Observatorium Palomar dekat San Diego, telah menemukan sejumlah ledakan bintang yang luar biasa terang di galaksi kerdil yang ukurannya hingga 1.000 kali lebih kecil dari galaksi Bima Sakti kita. Ledakan bintang, disebut supernova, terjadi ketika bintang besar – beberapa di antaranya berukuran hingga 100 kali massa matahari kita – mengakhiri hidup mereka.
Pengamatan Palomar mungkin menjelaskan misteri pertama yang ditunjukkan oleh Neil deGrasse Tyson dan John Scalo ketika mereka masih berada di University of Austin Texas (Tyson kini menjadi direktur Hayden Planetarium in New York). Mereka mencatat bahwa supernova terjadi di tempat yang sepertinya tidak ada galaksi sama sekali, dan mereka bahkan mengusulkan bahwa galaksi kerdil adalah tempat itu, sebagaimana yang ditunjukkan data Palomar saat ini.
Kini, para astronom menggunakan data ultraviolet dari Galaxy Evolution Explorer untuk memeriksa lebih lanjut galaksi-galaksi kerdil. Pembentukan bintang baru cenderung memancarkan sejumlah sinar ultraviolet yang berlebihan, sehingga Galaxy Evolution Explorer, yang telah banyak memindai luar angkasa dalam cahaya ultraviolet, merupakan alat yang ideal untuk mengukur laju kelahiran bintang di galaksi.
Hasilnya menunjukkan bahwa galaksi kecil memiliki yang massa rendah, seperti yang sudah diduga, dan memiliki tingkat rendah dalam hal pembentukan bintang. Dengan kata lain, galaksi mungil tidak banyak menghasilkan bintang besar.

Asteroid

0 komentar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Asteroid, pernah disebut sebagai planet minor atau planetoid, adalah benda berukuran lebih kecil daripada planet, tetapi lebih besar daripada meteoroid, umumnya terdapat di bagian dalam Tata Surya (lebih dalam dari orbit planet Neptunus). Asteroid berbeda dengan komet dari penampakan visualnya. Komet menampakkan koma ("ekor") sementara asteroid tidak.

Asteroid dalam sistem tatasurya


Sabuk asteroid (titik-titik putih).

Dari kiri ke kanan: 4 Vesta, 1 Ceres, Bulan.
Asteroid pertama yang ditemukan adalah 1 Ceres yang ditemukan pada tahun 1801 oleh Giuseppe Piazzi. Kala itu, asteroid disebut sebagai planetoid.
Sudah sebanyak ratusan ribu asteroid di dalam tatasurya kita diketemukan dan kini penemuan baru itu rata-rata sebanyak 5000 buah per bulannya. Pada 27 Agustus 2006, dari total 339.376 planet kecil yang terdaftar, 136.563 di antaranya memiliki orbit yang cukup dikenal sehingga bisa diberi nomor resmi yang permanen. Di antara planet-planet tersebut, 13.350 memiliki nama resmi (trivia: kira-kira 650 di antara nama ini memerlukan tanda pengenal). Nomor terbawah tetapi berupa planet kecil tak bernama yaitu (3360) 1981 VA; planet kecil yang dinamai dengan nomor teratas (kecuali planet katai 136199 Eris serta 134340 Pluto), yaitu 129342 Ependes .
Kini diperkirakan bahwa asteroid yang berdiameter lebih dari 1 km dalam sistem tatasurya tatasurya berjumlah total antara 1.1 hingga 1.9 juta. Astéroid terluas dalam sistem tatasurya sebelah dalam, yaitu 1 Ceres dengan diameter 900-1000 km. Dua asteroid sabuk sistem tatasurya sebelah dalam, yaitu 2 Pallas dan 4 Vesta; keduanya memiliki diameter ~ 500 km. Vesta merupakan asteroid sabuk paling utama yang kadang-kadang terlihat oleh mata telanjang (pada beberapa kejadian yang cukup jarang, asteroid yang dekat dengan bumi dapat terlihat tanpa bantuan teknis; lihat 99942 Apophis).
Massa seluruh asteroid Sabuk Utama diperkirakan sekitar 3.0-3.6×1021 kg, atau kurang lebih 4% dari massa bulan. Dari kesemuanya ini, 1 Ceres bermassa 0.95×1021 kg, 32% dari totalnya. Kemudian asteroid terpadat, 4 Vesta (9%), 2 Pallas (7%) dan 10 Hygiea (3%), menjadikan perkiraan ini menjadi 51%; tiga seterusnya, 511 Davida (1.2%), 704 Interamnia (1.0%) dan 3 Juno (0.9%), hanya menambah 3% dari massa totalnya. Jumlah asteroid berikutnya bertambah secara eksponensial walaupun massa masing-masing turun. Dikatakan bahwa asteroid Ida juga memiliki sebuah satelit yang bernama Dactyl.

PENGERTIAN ALAM SEMESTA

0 komentar
Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.
Berdasarkan jaraknya dari matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima objek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km).
Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami, yang biasa disebut dengan "bulan" sesuai dengan Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.