Jumat, 14 Oktober 2011

Masa Tenang Sebelum Badai di Saturnus

0 komentar
Saturnus adalah salah satu planet terindah di Tata Surya karena memiliki cincin yang cantik yang mengelilingi dirinya. Planet cincin nan cantik ini berada jauh dari Matahari kalau dibanding dengan jarak Bumi ke Matahari.  Karena itu, Saturnus membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa mengelilingi Matahari.

Saturnus. kredit : ESO/University of Oxford/L. N. Fletcher/T. Barry
Tahun adalah waktu yang dibutuhkan sebuah planet untuk mengelilingi Matahari sebanyak satu kali. Tapi lamanya satu tahun di tiap planet berbeda karena tiap planet membutuhkan waktu yang berbeda untuk mengelilingi Matahari.  Satu tahun di Saturnus jauh lebih lama dibanding satu tahun di Bumi. Ketika Saturnus menyelesaikan satu putarannya pada Matahari, maka itu sama dengan 30 tahun di Bumi.
Astronom juga mengetahui kalau setahun sekali dalam 1 tahun Saturnus – atau 30 tahun sekali berdasarkan waktu Bumi, badai besar terjadi di atmosfer Saturnus yang biasanya tenang. Astronom Leigh Fletcher dari Universitas Oxford, Inggris, adalah salah satu astronom yang mempelajari badai di Saturnus semenjak pertama kali terlihat bulan Desember lalu.

Tatapan Sepasang Mata dari Angkasa

0 komentar
Tidak biasanya ketika astronom sedang melihat ke angkasa mereka menemukan sepasang mata lain sedang menatap mereka. Itulah yang terjadi kali ini. Tapi bukan mata alien yang sedang menatap mereka. Itu adalah mata sepasang galaksi yang diberi julukan “The Eyes” karena keduanya tampak seperti sepasang bola mata putih yang bersinar di malam hari!.
Pasangan NGC 4438 dan NGC 4435, yang dijuluki The Eyes atau Mata. kredit : ESO
Pada pandangan pertama, kedua galaksi tidak tampak mirip seperti mata. Hal ini karena foto tersebut diambil oleh teleskop bernama Very Large Telescope. Kalau ingin bisa melihat galaksi itu agar tampak seperti sepasang mata, coba perhatikan foto di atas dengan lebih teliti lagi atau akan jauh lebih baik jika kedua galaksi tersebut dilihat dengan teleskop yang lebih kecil. Dan keduanya akan tampak seperti sepasang mata yang sedang menatap dari angkasa!.
Galaksi yang di sebelah kiri pada foto tampak seperti memiliki memar – si mata hitam! Bagian paling gelap dari memar itu merupakan debu dan area berwarna biru merupakan bintang biru yang merupakan bintang muda. Galaksi lainnya tidak memiliki debu atau bintang dan tampak seperti disobek oleh kekuatan yang sangat kuat ketika kedua galaksi berada dekat satu dengan yang lainnya.
Kedua galaki itu akan saling mendekat sampai keduanya menjadi satu. Pada saat mereka bersatu, nama Mata tidak akan cocok lagi. Akan dibutuhkan nama yang baru. Tapi itu masih lama baru terjadi, sehingga masih ada banyak waktu bagi astronom untuk memikirkan nama baru.
Fakta Menarik : Galaksi kita, Bima Sakti suatu hari nanti akan bertabrakan dengan galaksi tetangga yang bernama Galaksi Andromeda. Itu akan terjadi 3 -4 milyar tahun lagi.

Sumber : Space Scoop Universe Awareness

MENGUNGKAP RAHASIA ALAM SEMESTA "MULTIVERSE"

0 komentar
Apakah alam semesta itu hanya satu? Ataukah ada alam semesta lainnya?
Sekelompok peneliti yang dipimpin Stephen Feeney mencoba memberi jawaban atas pertanyaan tersebut. Hasil penelitian mereka menunjukkan adanya sesuatu yang lain dalam echo (gaung) dentuman besar. Mereka memulai analisanya dari pemodelan alam semesta yang berbeda yang disebut inflasi abadi.
Teori Inflasi Abadi

Tanda tabrakan gelembung pada berbagai tahapan.
Dalam pemodelan Inflasi Abadi, alam semesta yang bisa diamati akan berada di dalam sebuah gelembung yang melekat dalam dunia paralel yang luas (multiverse / banyak alam semesta). Sebagian multiverse ini sedang mengalami pengembangan dengan percepatan super.
Artinya, alam semesta kita tidak sendiri. Ada alam semesta lain dalam gelembung di kosmos yang luas ini, dan bisa jadi hukum fisika yang berlaku dalam alam semesta lain tersebut berbeda dengan yang ada di alam semesta kita.
Pengujian skenario ini tidaklah mudah karena inflasi abadi merupakan epoh pre-inflasi (sebelum terjadinya inflasi) dan sinyal dari luar gelembung alam semesta kita akan ditarik  di horison / cakrawala dalam skala super yang tidak teramati.
Meskipun demikian, ada kemungkinan lain untuk bisa menelusuri epoh ini melalui tabrakan antara gelembung vakum.  Maksutnya, alam semesta yang diamati dalam gelembung-gelembung  jelas memiliki masa lalu yang keras dan saling bertabrakan menyisakan tanda kosmik di tempat mereka bersentuhan.  Tabrakan yang terjadi akan menghasilkan inhomegenitas pada bagian dalam gelembung, sehingga tanda tersebut tentu akan bisa dilihat di masa kini dalam lata belakang gelombang mikro kosmik.
Hasil yang ada saat ini juga menunjukkan kalau keberadaan tabrakan antar gelembung memang memungkinkan dan cocok dengan pengamatan kosmologi. Dalam beberapa model, tabrakan cenderung terjadi dalam kerucut cahaya masa lalu kita dan tabrakan tersebut bisa meninggalkan tanda yang dapat diamati.

Kamis, 13 Oktober 2011

Bintang terbesar bintang VY CHANIS MAJORIS

0 komentar
Tahukah kamu kalau bumi kita itu hanya sebesar debu kalu di bandingkan dengan bintangVY Canis Majoris, VY Canis Majoris adalah bintang terbesar di alam semesta (jagat raya) yang diketahui oleh manusia.  VY Canis Majoris berada di gugusan bintang Canis Major. Karena saking besarnya, ia termasuk salah satu bintang yang paling terang cahayanya. Letaknya sekitar 4.900 tahun cahaya dari bumi. Bintang ini pertama kali diketahui berdasarkan katalog dari Jerome Lalande pada 7 Maret 1801. Katalog tersebut mencatat VY Canis Majoris sebagai 7 bintang besar. Sejak tahun 1847, VY Canis Majoris diketahui sebagai bintang merah. Dengan suhu sekitar 3000 K, suhu yang termasuk dingin untuk sebuah bintang.
Tidak seperti bintang-bintang besar lainnya VY canis majoris adalah bintang tunggal dan bukan sistem

Seberapa masifkah lubang hitam ??

0 komentar
Magnetar, tipe dalam Bintang Netron yang memiliki medan magnet ultra-kuat, bahkan ribuan kali lebih kuat dari bintang netron normal dan menjadikan mereka magnet paling kuat di kosmos. Dengan menggunakan Very Large Telescope milik ESO, astronom eropa untuk pertama kalinya bisa menyaksikan terbentuknya magnetar dari sebuah bintang yang massanya 40 kali massa Matahari.

Ilustrasi artis untuk menggambarkan magnetar. kredit : ESO/L. Calçada

ALAM SEMESTA

0 komentar
“Dari mana planet dan kita berasal?”… “Dari mana semua ini berawal?”… Mungkin ini adalah pertanyaan yang paling sering diperdebatkan para ilmuan. Saya akan membawa para Netsainers pergi 13,7 milyar tahun yang lalu untuk melihat bagaimana Alam semesta terbentuk, dari mana semua unsur berasal, dan bagaimana semua ini akan berakhir.
Teori Pembentukan Alam Semesta
Hingga Tahun 1928 banyak sekali teori bagaimana alam semesta ini berawal, dari teori ada dengan seketika sampai teori radikal yang mengatakan bahwa alam semesta tidak mempunyai awal maupun akhir, tapi semua itu hanyalah sebuah asumsi dan sama sekali tidak terbukti.  Tuan Hubble Pada tahun 1929 sedang mengamati ledakan supernova, sinar yang super terang dari supernova itu membuatnya sadar bahwa galaksi didekatnya semakin menjauh pada setiap detiknya. Lalu dia mengamati frekuensi cahaya dari galaksi yang menjauh itu, apa yang dia dapat sangat mengejutkan, frekuensinya semakin menurun dan merubah warna cahaya galaksi itu menjadi merah. Perubahan warna yang radikal itu membuktikan bahwa alam semesta sedang memuai dengat sangat cepat!! Ketika itu dia menyadari bahwa dahulu kala alam semesta pernah saling berdekatan bahkan menyatu menjadi sebuah titik kecil, lalu energi yang besar membuatnya memuai. Kemudian teori Big Bang mulai diakui oleh dunia.

HUBBLE TELESKOP

0 komentar



Gegap gempitanya tidak terasa di Indonesia ketika akhir April lalu teleskop Hubble genap berusia 20 tahun di antariksa. Memang di sinilah ironinya. Ketika bangsa lain telah melambung jauh dalam upaya memahami semesta, bangsa kita terpuruk dalam persoalan keseharian yang tidak membanggakan: pertikaian, kemiskinan, dan korupsi yang tiada habisnya.
Tak ada yang pernah menduga, kehadiran teleskop Hubble telah menjawab pertanyaan manusia yang paling mendasar tentang pembentukan alam semesta, tata surya, Bumi, dan terutama asal usul manusia. ”Kuncinya ada pada temuan bahwa bintang-bintang yang baru lahir mengandung elemen kimia yang sama dengan penyusun tubuh manusia,” kata John Grunsfeld, mantan astronot yang tiga kali ikut misi perbaikan teleskop Hubble, seperti dikutip CNN.

EXOPLANET

0 komentar
Ada beberapa tempat di Bumi yang ekstrim: sebut saja kutub Utara dan kutub Selatan dengan temperaturnya yang membekukan, laut terdalam yang tidak dapat dicapai oleh sinar Matahari dan bagian dalam gunung api yang panas. Tapi tidak ada satupun dari area ini yang bisa menyamai kondisi keras di beberapa planet lain di alam semesta.
CoRoT-2a, planet yang dihujani sinar-X. kredit : NASA/CXC/M.Weiss
Sebagai contoh, dengan menggunakan teleskop sinar-X Chandra yang berada di ruang angkasa, astronom berhasil menemukan planet jauh yang dihujani radiasi sinar-X oleh bintang yang dikelilinginya. Radiasi sinar-X ini 100000 kali lebih intens dari yang diperoleh Bumi dari bintang terdekatnya, Matahari!
Karena planet ini ditemukan di luar Tata Surya, maka sistem planet seperti ini disebut juga planet extrasolar atau planet luar-surya.  Exoplanet ini termasuk masif sekitar 3 kali Jupiter, atau 1000 kali Bumi. Ia juga berada jauh lebih dekat ke bintangnya dibanding Bumi ke Matahari. Akibatnya ia masuk dalam garis tembakan sinar-X yang intens itu.
Untuk mengetahui lebih banyak tentang exoplanet ini, astronom menggabungkan pengamatan yang dilakukan Chandra dengan pengamatan teleskop lain yang ada di Bumi yakni Very Large Telescope.  Hasilnya, astronom menemukan kalau radiasi sinar-X tersebut menghancurkan sekitar 5 juta ton materi di planet itu setiap detik!.
Astronom Sebastian Schroeter mengatakan: “Planet ini sedang digoreng oleh bintangnya.”

Fakta Menarik : Bentuk kehidupan, seperti bakteri ada yang bisa selamat dalam lingkungan ekstrim di Bumi. Namanya extremophiles. Bisakah kita menemukan extremophiles alien hidup di lingkungan yang lebih keras dan ekstrim di alam semesta?

Sumber : Space Scoop Universe Awareness

Rabu, 12 Oktober 2011

BINTANG NEUTRON

0 komentar
Dari sekian banyak bintang di angkasa, ada satu bintang yang menarik perhatian ilmuwan hingga saat ini. Bintang neutron, begitu namnya, menarik perhatian para ilmuwan karena kondisinya yang sangat ekstrem.
Betapa tidak. Bintang yang memiliki diameter hanya sekitar 25 km ini memiliki massa sekitar 1,4 kali massa matahari atau setara dengan setengah juta kali massa bumi. Dengan demikian medan gravitasi di permukaan bintang ini berkisar 200 milyar kali lebih kuat dari medan gravitasi di permukaan bumi.
Medan gravitasi sebesar ini akan mampu meremukkan benda-benda yang ada dipermukaannya serta atom-atom penyusun benda tersebut. Sebagai gambaran, seseorang yang jatuh ke permukaan bintang neutron akan menabrak permukaannya dengan kecepatan 150.000 km per detik atau energi yang dihasilkan oleh tabrakan tersebut setara dengan 100 megaton ledakan nuklir. Tidak hanya sampai di situ. Sebuah bintang neutron dapat memiliki medan magnetik hingga 100 gigatesla. Medan magnet sebesar itu dapat menghancurkan semua informasi di dalam semua kartu kredit yang ada di atas permukaan bumi, jika bintang neutron diletakkan pada orbit bulan. Sebagai perbandingan, medan magnet bumi hanya berkekuatan sekitar 60 mikrotesla.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Mengapa Ledakan Bintang Terbesar Sering Terjadi di Galaksi Terkecil Mulai Terungkap

0 komentar
Studi ini menjelaskan mengapa bintang besar di galaksi kecil mengalami ledakan yang bahkan lebih kuat daripada bintang yang berbobot serupa di galaksi yang lebih besar seperti Bima Sakti kita.

Para astronom yang menggunakan Galaxy Evolution Explorer NASA mungkin telah lebih dekat untuk mengetahui mengapa beberapa ledakan bintang paling masif yang pernah diamati terjadi di galaksi yang terkecil.
“Ini bagaikan menemukan pegulat sumo dalam ‘Mobil Cerdas’ kecil,” kata Don Neill, anggota tim Evolution Galaxy Explorer NASA di Institut Teknologi California di Pasadena, dan penulis utama studi baru yang dipublikasikan dalam Jurnal Astrophysical.

Galaxy Evolution Explorer NASA membantu memecahkan misteri - mengapa galaksi terkecil menghasilkan ledakan bintang yang terbesar, atau supernova? (Kredit: NASA/JPL-Caltech)
“Ledakan bintang-bintang besar yang paling kuat terjadi di galaksi yang bermassa sangat rendah. Data terbaru mengungkapkan bahwa bintang-bintang yang mulai membesar dalam galaksi kecil tetap membesar sampai mereka meledak, sedangkan di galaksi yang lebih besar mereka justru mengkerut seiring bertambahnya usia, dan kurang besar ketika mereka meledak,” kata Neill.
Selama beberapa tahun terakhir, para astronom yang menggunakan data dari Palomar Transient Factory, survei angkasa luar berbasis darat di Observatorium Palomar dekat San Diego, telah menemukan sejumlah ledakan bintang yang luar biasa terang di galaksi kerdil yang ukurannya hingga 1.000 kali lebih kecil dari galaksi Bima Sakti kita. Ledakan bintang, disebut supernova, terjadi ketika bintang besar – beberapa di antaranya berukuran hingga 100 kali massa matahari kita – mengakhiri hidup mereka.
Pengamatan Palomar mungkin menjelaskan misteri pertama yang ditunjukkan oleh Neil deGrasse Tyson dan John Scalo ketika mereka masih berada di University of Austin Texas (Tyson kini menjadi direktur Hayden Planetarium in New York). Mereka mencatat bahwa supernova terjadi di tempat yang sepertinya tidak ada galaksi sama sekali, dan mereka bahkan mengusulkan bahwa galaksi kerdil adalah tempat itu, sebagaimana yang ditunjukkan data Palomar saat ini.
Kini, para astronom menggunakan data ultraviolet dari Galaxy Evolution Explorer untuk memeriksa lebih lanjut galaksi-galaksi kerdil. Pembentukan bintang baru cenderung memancarkan sejumlah sinar ultraviolet yang berlebihan, sehingga Galaxy Evolution Explorer, yang telah banyak memindai luar angkasa dalam cahaya ultraviolet, merupakan alat yang ideal untuk mengukur laju kelahiran bintang di galaksi.
Hasilnya menunjukkan bahwa galaksi kecil memiliki yang massa rendah, seperti yang sudah diduga, dan memiliki tingkat rendah dalam hal pembentukan bintang. Dengan kata lain, galaksi mungil tidak banyak menghasilkan bintang besar.

Asteroid

0 komentar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Asteroid, pernah disebut sebagai planet minor atau planetoid, adalah benda berukuran lebih kecil daripada planet, tetapi lebih besar daripada meteoroid, umumnya terdapat di bagian dalam Tata Surya (lebih dalam dari orbit planet Neptunus). Asteroid berbeda dengan komet dari penampakan visualnya. Komet menampakkan koma ("ekor") sementara asteroid tidak.

Asteroid dalam sistem tatasurya


Sabuk asteroid (titik-titik putih).

Dari kiri ke kanan: 4 Vesta, 1 Ceres, Bulan.
Asteroid pertama yang ditemukan adalah 1 Ceres yang ditemukan pada tahun 1801 oleh Giuseppe Piazzi. Kala itu, asteroid disebut sebagai planetoid.
Sudah sebanyak ratusan ribu asteroid di dalam tatasurya kita diketemukan dan kini penemuan baru itu rata-rata sebanyak 5000 buah per bulannya. Pada 27 Agustus 2006, dari total 339.376 planet kecil yang terdaftar, 136.563 di antaranya memiliki orbit yang cukup dikenal sehingga bisa diberi nomor resmi yang permanen. Di antara planet-planet tersebut, 13.350 memiliki nama resmi (trivia: kira-kira 650 di antara nama ini memerlukan tanda pengenal). Nomor terbawah tetapi berupa planet kecil tak bernama yaitu (3360) 1981 VA; planet kecil yang dinamai dengan nomor teratas (kecuali planet katai 136199 Eris serta 134340 Pluto), yaitu 129342 Ependes .
Kini diperkirakan bahwa asteroid yang berdiameter lebih dari 1 km dalam sistem tatasurya tatasurya berjumlah total antara 1.1 hingga 1.9 juta. Astéroid terluas dalam sistem tatasurya sebelah dalam, yaitu 1 Ceres dengan diameter 900-1000 km. Dua asteroid sabuk sistem tatasurya sebelah dalam, yaitu 2 Pallas dan 4 Vesta; keduanya memiliki diameter ~ 500 km. Vesta merupakan asteroid sabuk paling utama yang kadang-kadang terlihat oleh mata telanjang (pada beberapa kejadian yang cukup jarang, asteroid yang dekat dengan bumi dapat terlihat tanpa bantuan teknis; lihat 99942 Apophis).
Massa seluruh asteroid Sabuk Utama diperkirakan sekitar 3.0-3.6×1021 kg, atau kurang lebih 4% dari massa bulan. Dari kesemuanya ini, 1 Ceres bermassa 0.95×1021 kg, 32% dari totalnya. Kemudian asteroid terpadat, 4 Vesta (9%), 2 Pallas (7%) dan 10 Hygiea (3%), menjadikan perkiraan ini menjadi 51%; tiga seterusnya, 511 Davida (1.2%), 704 Interamnia (1.0%) dan 3 Juno (0.9%), hanya menambah 3% dari massa totalnya. Jumlah asteroid berikutnya bertambah secara eksponensial walaupun massa masing-masing turun. Dikatakan bahwa asteroid Ida juga memiliki sebuah satelit yang bernama Dactyl.

PENGERTIAN ALAM SEMESTA

0 komentar
Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi dan jutaan benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebar. Awan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.
Berdasarkan jaraknya dari matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima objek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris (10.100 juta km).
Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami, yang biasa disebut dengan "bulan" sesuai dengan Bulan atau satelit alami Bumi. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.